Panduan HR

Surat Keterangan Kerja: Fungsi, Format, dan Contohnya

Surat keterangan kerja adalah bukti resmi status karyawan aktif untuk syarat KPR, visa, atau beasiswa. Simak isi wajib, format, dan dua contohnya di sini.

Oleh Tim Absenia · 3 September 2026 · 9 menit baca
Surat Keterangan Kerja: Fungsi, Format, dan Contohnya

Surat keterangan kerja adalah dokumen resmi dari perusahaan yang menyatakan bahwa seorang karyawan masih aktif bekerja, lengkap dengan jabatan, tanggal mulai bekerja, dan status kepegawaiannya. Bank memintanya saat Anda mengajukan KPR atau pinjaman, kedutaan memintanya untuk proses visa, dan sekolah anak atau lembaga beasiswa memintanya sebagai bukti bahwa orang tua atau pemohon punya penghasilan tetap. Panduan ini membahas fungsi surat keterangan kerja, isi minimal yang wajib ada, format resminya, siapa yang berwenang menandatangani, cara mengajukan yang efisien, dan dua contoh yang bisa Anda sesuaikan. Kami juga membedakannya dengan jelas dari paklaring dan surat pengunduran diri, karena ketiganya sering tertukar padahal fungsi dan waktu penerbitannya berbeda.

Apa itu surat keterangan kerja dan fungsinya

Definisinya sederhana: surat keterangan kerja adalah pernyataan tertulis dari perusahaan bahwa seseorang benar bekerja di tempat itu, pada tanggal surat itu diterbitkan. Kata kuncinya ada di kata "masih". Dokumen ini hanya berlaku untuk karyawan yang statusnya aktif, bukan yang sudah berhenti. Begitu seorang karyawan resign atau kena PHK, dokumen yang relevan berubah menjadi paklaring, bukan lagi surat keterangan kerja.

Fungsinya paling sering muncul saat karyawan berurusan dengan pihak ketiga yang perlu bukti status pekerjaan dan penghasilan tetap. Yang paling umum adalah syarat pengajuan KPR atau kredit kendaraan di bank, karena bank perlu memastikan pemohon punya sumber penghasilan yang stabil. Berikutnya adalah permohonan visa kerja atau visa kunjungan jangka panjang, di mana kedutaan ingin memastikan pemohon punya ikatan kerja yang jelas di negara asal. Lembaga beasiswa, baik untuk karyawan sendiri maupun untuk anaknya, juga kerap meminta surat ini sebagai salah satu syarat administrasi. Di luar itu, surat keterangan kerja juga muncul untuk pendaftaran sekolah anak, pengajuan kartu kredit, sewa apartemen, sampai keperluan administrasi hukum tertentu seperti pengurusan dokumen kependudukan.

Pendapat kami di Absenia, surat keterangan kerja sering diremehkan sebagai dokumen basa basi, padahal ia berfungsi sebagai jembatan kepercayaan antara karyawan Anda dan pihak luar yang tidak mengenal perusahaan Anda sama sekali. Bank atau kedutaan tidak bisa memverifikasi langsung ke tempat kerja seseorang, jadi mereka bergantung pada dokumen resmi berkop dan bertanda tangan sebagai bukti. Semakin cepat dan rapi Anda menerbitkannya, semakin besar kepercayaan yang terbangun, baik dari karyawan kepada perusahaan maupun dari pihak luar kepada karyawan Anda.

Ringkasan

Surat keterangan kerja hanya berlaku untuk karyawan yang masih aktif bekerja. Fungsi utamanya adalah bukti status pekerjaan dan penghasilan tetap untuk keperluan KPR, visa, beasiswa, atau sekolah anak, bukan untuk klaim setelah hubungan kerja berakhir.

Beda dengan paklaring dan surat pengunduran diri

Tiga dokumen ini sering disebut bergantian padahal fungsinya sama sekali berbeda, dan kekeliruan ini bisa merepotkan kalau karyawan meminta dokumen yang salah kepada HRD, atau HRD menerbitkan dokumen yang salah kepada karyawan. Pembedanya ada dua hal: siapa yang membuat, dan kapan dokumen itu relevan.

Surat keterangan kerja dibuat oleh perusahaan untuk karyawan yang masih aktif. Paklaring juga dibuat oleh perusahaan, tetapi hanya setelah hubungan kerja berakhir, baik karena resign maupun PHK, dan isinya menyatakan bahwa seseorang pernah bekerja dari tanggal tertentu sampai tanggal tertentu. Selengkapnya soal kewajiban dan format paklaring bisa Anda baca di panduan paklaring. Surat pengunduran diri justru berlawanan arah: dokumen ini dibuat dan ditandatangani oleh karyawan sendiri, ditujukan kepada perusahaan, sebagai pemberitahuan resmi bahwa ia berhenti bekerja. Perusahaan menerima surat itu, bukan menerbitkannya.

AspekSurat keterangan kerjaPaklaringSurat pengunduran diri
Diterbitkan olehPerusahaanPerusahaanKaryawan
Status karyawanMasih aktif bekerjaSudah berhenti (resign/PHK)Sedang mengajukan berhenti
Ditujukan kepadaBank, kedutaan, sekolah, lembaga beasiswaCalon pemberi kerja baru, BPJS KetenagakerjaanPerusahaan (atasan/HRD)
Kegunaan utamaBukti status kerja dan penghasilan tetapBukti pengalaman kerja, syarat klaim JHTPemberitahuan resmi berhenti bekerja

Yang paling sering keliru adalah karyawan yang meminta "surat pengalaman kerja" ke HRD padahal statusnya masih aktif. Kalau Anda menemukan permintaan seperti itu, cek dulu keperluannya. Kalau untuk melamar kerja baru sambil masih bekerja, biasanya yang cocok justru surat keterangan kerja dengan keterangan masa kerja sampai saat ini, bukan paklaring, karena paklaring secara definisi baru terbit setelah hubungan kerja resmi berakhir.

Isi minimal yang wajib ada

Isi surat keterangan kerja tidak perlu panjang, tetapi ada beberapa elemen yang tidak boleh hilang supaya dokumennya diterima pihak yang memintanya. Tabel berikut merangkum elemen minimal itu beserta alasannya.

ElemenKeterangan
Kop dan identitas perusahaanNama, alamat, dan kontak resmi perusahaan sebagai bukti keabsahan penerbit
Nomor suratNomor administratif internal, memudahkan penelusuran arsip bila diperlukan
Identitas karyawanNama lengkap, dan bila diperlukan nomor identitas kependudukan
Jabatan dan unit kerjaPosisi terkini karyawan di perusahaan
Tanggal mulai bekerja dan status kepegawaianSejak kapan bekerja, berstatus PKWT atau PKWTT
Pernyataan status aktifKalimat tegas bahwa karyawan masih bekerja hingga tanggal surat diterbitkan
Tempat dan tanggal penerbitanMenunjukkan surat ini masih berlaku terkini, bukan dokumen lama
Tanda tangan berwenang dan stempelUnsur keabsahan yang paling sering dicek pihak penerima

Data identitas dan jabatan yang tercantum di surat ini idealnya sama persis dengan data yang tertulis di kontrak kerja karyawan yang bersangkutan. Selisih sekecil apa pun, misalnya tanggal mulai kerja beda satu bulan atau nama jabatan yang ditulis berbeda dari kontrak, bisa membuat pihak bank atau kedutaan curiga dan meminta klarifikasi tambahan. Soal besaran gaji, cantumkan hanya bila memang diminta secara spesifik oleh pihak peminta, dan sebaiknya minta persetujuan tertulis dari karyawan lebih dulu, karena informasi penghasilan termasuk data yang sensitif.

Format resmi: kop, nomor, dan struktur penulisan

Struktur penulisan surat keterangan kerja umumnya mengikuti pola surat resmi administratif. Dimulai dari kop surat perusahaan di bagian atas, diikuti judul "Surat Keterangan Kerja" dan nomor surat di bawahnya. Paragraf pembuka biasanya berbunyi "Yang bertanda tangan di bawah ini" diikuti nama dan jabatan pihak yang menandatangani atas nama perusahaan.

Paragraf berikutnya berisi identitas karyawan: nama lengkap, jabatan, unit kerja, tanggal mulai bekerja, dan status kepegawaian. Setelah itu ada paragraf pernyataan inti, yakni kalimat yang menegaskan bahwa karyawan tersebut memang benar bekerja di perusahaan dan masih aktif hingga tanggal surat diterbitkan. Kalau pihak peminta menyebutkan keperluan spesifik, misalnya "untuk keperluan pengajuan KPR", sebaiknya keperluan itu ikut dicantumkan agar penerima surat tahu konteks penggunaannya.

Penutup surat berisi tempat dan tanggal penerbitan, diikuti tanda tangan pejabat berwenang, nama terang, jabatan, dan stempel resmi perusahaan. Sebagian perusahaan juga menambahkan kontak HRD yang bisa dihubungi untuk verifikasi, karena bank dan kedutaan kadang menelepon langsung untuk memastikan surat itu asli.

Pro Tip

Selalu sertakan nomor telepon atau email HRD yang aktif di bagian penutup surat. Banyak bank dan kedutaan melakukan verifikasi telepon sebelum memproses pengajuan karyawan Anda, dan surat tanpa kontak verifikasi kadang membuat prosesnya tertunda karena pihak penerima tidak yakin cara mengonfirmasinya.

Siapa yang berwenang menandatangani

Pada usaha kecil dengan struktur organisasi yang masih ramping, biasanya pemilik usaha atau direktur menandatangani langsung setiap surat keterangan kerja yang diminta karyawan. Ini wajar karena jumlah permintaannya belum banyak dan pemilik usaha memang memegang semua keputusan administratif.

Begitu perusahaan tumbuh dan jumlah karyawan bertambah, kewenangan ini biasanya didelegasikan ke manajer HRD atau kepala personalia. Pendelegasian ini sebaiknya dituangkan secara tertulis, misalnya lewat surat kuasa internal atau surat keputusan direksi, supaya jelas siapa yang berhak menandatangani atas nama perusahaan dan sampai batas apa. Kalau Anda ingin memahami cakupan tugas yang biasanya melekat pada peran ini, kami bahas lebih lengkap di artikel tugas HRD.

Yang penting bukan gelar jabatan penandatangan, melainkan apakah orang itu memang diberi wewenang resmi dan suratnya memakai stempel perusahaan yang sah. Surat yang ditandatangani oleh pihak yang tidak berwenang, atau tanpa stempel resmi, berisiko ditolak oleh bank atau kedutaan, bahkan bisa menimbulkan pertanyaan soal keabsahan dokumen di kemudian hari. Sebaiknya perusahaan punya daftar tetap siapa saja yang berhak menandatangani dokumen semacam ini, supaya tidak ada kebingungan setiap kali ada permintaan baru.

Cara mengajukan dan memprosesnya di perusahaan

Dari sisi karyawan, alur pengajuannya sebaiknya sederhana: sampaikan permintaan ke HRD lewat jalur resmi seperti formulir, email, atau aplikasi HR, sertakan keperluan surat dan pihak yang memintanya. Informasi ini penting karena format dan detail isi surat bisa sedikit berbeda tergantung tujuannya, misalnya surat untuk KPR biasanya perlu mencantumkan lama masa kerja secara jelas, sementara surat untuk sekolah anak cukup menegaskan status aktif bekerja saja.

Dari sisi HRD, langkah pertama adalah memverifikasi data karyawan yang bersangkutan: apakah jabatan dan tanggal mulai kerja yang akan dicantumkan sudah sesuai dengan data terkini, dan apakah statusnya memang masih aktif. Data ini idealnya sudah tersimpan rapi sejak proses onboarding karyawan baru, sehingga HRD tidak perlu mencari-cari berkas lama saat ada permintaan mendadak. Perusahaan yang masih menyimpan data karyawan tersebar di banyak spreadsheet biasanya butuh waktu lebih lama untuk memverifikasi satu permintaan surat dibanding perusahaan yang datanya sudah terpusat di satu aplikasi HRD.

Target waktu yang wajar adalah satu sampai tiga hari kerja sejak permintaan diajukan, dengan syarat data karyawan sudah lengkap. Kalau perusahaan Anda konsisten butuh waktu lebih lama dari itu, penyebabnya hampir selalu sama: bukan karena suratnya rumit ditulis, melainkan karena data dasarnya belum rapi.

Catatan

Jangan mencantumkan besaran gaji di surat keterangan kerja tanpa izin tertulis dari karyawan yang bersangkutan, meskipun pihak peminta memintanya. Informasi penghasilan adalah data pribadi yang sensitif, dan mencantumkannya tanpa persetujuan bisa menimbulkan masalah kepercayaan antara Anda dan karyawan.

Dua contoh surat keterangan kerja

Berikut dua contoh yang bisa Anda sesuaikan dengan kop surat dan data perusahaan Anda sendiri. Bagian yang ditulis dalam tanda kurung siku perlu diganti dengan data aktual.

Contoh 1, untuk keperluan pengajuan KPR atau pinjaman bank
SURAT KETERANGAN KERJA
Nomor: [nomor surat]/SKK/[bulan romawi]/[tahun]

Yang bertanda tangan di bawah ini, [nama penandatangan], selaku [jabatan] pada [nama perusahaan], dengan ini menerangkan bahwa:
Nama: [nama karyawan]
Jabatan: [jabatan karyawan]
Unit kerja: [unit/divisi]
Status kepegawaian: [PKWT/PKWTT]
Bekerja sejak: [tanggal mulai kerja]

Adalah benar karyawan aktif pada [nama perusahaan] hingga tanggal surat ini diterbitkan. Surat ini dibuat untuk keperluan pengajuan Kredit Pemilikan Rumah/pinjaman di [nama bank]. Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

[Kota], [tanggal]
[Nama penandatangan]
[Jabatan]
(tanda tangan dan stempel perusahaan)

Contoh 2, untuk keperluan visa atau beasiswa
SURAT KETERANGAN KERJA
Nomor: [nomor surat]/SKK/[bulan romawi]/[tahun]

Yang bertanda tangan di bawah ini, [nama penandatangan], selaku [jabatan] pada [nama perusahaan] yang beralamat di [alamat perusahaan], dengan ini menerangkan bahwa:
Nama: [nama karyawan]
Jabatan: [jabatan karyawan]
Bekerja sejak: [tanggal mulai kerja]
Status kepegawaian: [PKWT/PKWTT]

Adalah benar karyawan aktif pada [nama perusahaan] dan sampai dengan tanggal surat ini diterbitkan yang bersangkutan masih tercatat bekerja dengan baik. Surat ini dibuat untuk melengkapi persyaratan pengajuan visa/beasiswa atas nama yang bersangkutan. Apabila diperlukan verifikasi lebih lanjut, dapat menghubungi kami melalui [kontak HRD].

[Kota], [tanggal]
[Nama penandatangan]
[Jabatan]
(tanda tangan dan stempel perusahaan)

Dua contoh di atas sengaja dibuat ringkas karena itulah kekuatan surat keterangan kerja yang baik: langsung ke inti, tidak bertele-tele, dan mudah diverifikasi. Kalau Anda ingin melihat cakupan fitur pengelolaan data karyawan yang membantu proses ini berjalan lebih cepat, silakan lihat halaman fitur Absenia, bandingkan paketnya di halaman harga, atau langsung daftar untuk tim di bawah 10 karyawan yang gratis selamanya.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu surat keterangan kerja dan untuk apa dipakai?

Surat keterangan kerja adalah dokumen resmi dari perusahaan yang menyatakan seorang karyawan masih aktif bekerja, lengkap dengan jabatan, tanggal mulai kerja, dan status kepegawaiannya. Karyawan memakainya sebagai bukti penghasilan dan status kerja untuk pengajuan KPR atau pinjaman bank, permohonan visa, pendaftaran beasiswa, syarat sekolah anak, sampai sewa properti.

Apa beda surat keterangan kerja dengan paklaring?

Surat keterangan kerja diterbitkan untuk karyawan yang masih aktif bekerja dan menyatakan status kerjanya saat ini. Paklaring diterbitkan setelah hubungan kerja berakhir, baik karena resign maupun PHK, dan menyatakan bahwa yang bersangkutan pernah bekerja dari tanggal berapa sampai tanggal berapa. Paklaring juga menjadi salah satu dokumen untuk klaim JHT di BPJS Ketenagakerjaan, sementara surat keterangan kerja tidak dipakai untuk keperluan itu.

Apa beda surat keterangan kerja dengan surat pengunduran diri?

Keduanya berlawanan arah. Surat pengunduran diri dibuat dan ditandatangani oleh karyawan, ditujukan kepada perusahaan, sebagai pemberitahuan resmi bahwa ia berhenti bekerja. Surat keterangan kerja dibuat dan ditandatangani oleh perusahaan, ditujukan kepada pihak ketiga seperti bank atau kedutaan, sebagai bukti bahwa karyawan tersebut masih bekerja. Satu datang dari karyawan, satu datang dari perusahaan.

Apa saja isi wajib surat keterangan kerja?

Isi minimalnya mencakup kop dan identitas perusahaan, nomor surat, identitas lengkap karyawan, jabatan dan unit kerja, tanggal mulai bekerja beserta status kepegawaian, pernyataan bahwa karyawan masih aktif bekerja hingga tanggal surat diterbitkan, tempat dan tanggal penerbitan, serta tanda tangan pejabat berwenang beserta stempel perusahaan. Besaran gaji hanya dicantumkan bila pihak peminta memintanya secara spesifik dan karyawan mengizinkan.

Siapa yang berhak menandatangani surat keterangan kerja?

Pada usaha kecil, biasanya pemilik usaha atau direktur yang menandatangani langsung. Pada perusahaan dengan struktur lebih besar, kewenangan ini umumnya didelegasikan ke manajer HRD atau kepala personalia melalui surat kuasa atau surat keputusan internal. Yang penting bukan jabatannya, melainkan apakah orang tersebut memang diberi wewenang resmi dan surat itu memakai stempel perusahaan yang sah.

Berapa lama proses penerbitan surat keterangan kerja?

Tidak ada aturan baku soal tenggat waktunya, tetapi praktik yang wajar adalah satu sampai tiga hari kerja sejak karyawan mengajukan permintaan, dengan syarat data kepegawaiannya sudah lengkap dan tervalidasi di sistem. Keterlambatan biasanya terjadi bukan karena prosesnya rumit, melainkan karena HRD masih mencari data manual di berkas atau spreadsheet yang tersebar.

Sumber

  1. UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (dasar hubungan kerja dan kewajiban administratif pemberi kerja terhadap karyawan aktif)
  2. UU Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (kewajiban perusahaan mencatat dan melaporkan data ketenagakerjaan karyawannya)
  3. BPJS Ketenagakerjaan, Prosedur Klaim JHT (konteks paklaring sebagai dokumen klaim, pembanding fungsi dengan surat keterangan kerja)

Mulai gratis, tanpa kartu kredit.

Gratis selamanya untuk tim di bawah 10 karyawan. Berhenti kapan saja.