Beban Kerja: Cara Mengukur dan Menghitung Kebutuhan Jumlah Karyawan
Beban kerja adalah total tugas yang harus diselesaikan satu posisi dalam periode tertentu. Panduan mengukurnya lengkap dengan contoh perhitungan kebutuhan jumlah orang.

Beban kerja adalah jumlah tugas yang harus diselesaikan satu orang atau satu posisi dalam periode waktu tertentu, dan cara mengukurnya adalah mengubah semua tugas itu menjadi satuan waktu, lalu membandingkannya dengan waktu kerja yang benar-benar tersedia. Hasil akhirnya satu angka yang sangat berguna buat pemilik usaha: berapa orang yang sebenarnya dibutuhkan posisi itu. Panduan ini membedah jenis beban kerja, metode pengukuran yang masuk akal untuk usaha kecil, contoh perhitungan lengkap dengan angka sampai keluar kebutuhan jumlah orang, cara membaca data kehadiran dan lembur sebagai indikator, dan kesalahan yang paling sering membuat hasilnya menyesatkan.
Apa itu beban kerja dan empat jenisnya
Sebagian besar pemilik usaha sudah punya jawaban soal beban kerja, tetapi jawabannya berupa perasaan. Kasir terlihat sibuk, jadi dianggap penuh. Admin sering pulang cepat, jadi dianggap santai. Masalahnya, sibuk dan penuh itu dua hal berbeda. Orang bisa sibuk sepanjang hari mengerjakan hal yang volumenya kecil, dan bisa terlihat santai padahal tugasnya menumpuk di akhir bulan.
Pemerintah memakai istilah ini secara formal untuk instansi negara. Permen PANRB Nomor 1 Tahun 2020 mendefinisikan analisis beban kerja sebagai teknik manajemen yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh informasi mengenai tingkat efektivitas dan efisiensi kerja organisasi berdasarkan volume kerja. Aturan itu mewajibkan instansi pusat dan daerah, bukan perusahaan swasta, jadi Anda tidak sedang melanggar apa pun kalau belum pernah melakukannya. Tetapi kata kuncinya layak dipinjam: sistematis dan berdasarkan volume kerja. Bukan berdasarkan siapa yang paling sering mengeluh.
Dalam praktik, beban kerja punya empat sisi yang perlu dibedakan supaya pengukurannya tidak pincang.
Beban kerja kuantitatif. Ini sisi yang paling mudah dihitung: berapa banyak unit pekerjaan yang harus diselesaikan. Jumlah pesanan yang diinput, jumlah faktur yang dibuat, jumlah paket yang dikemas, jumlah pelanggan yang dilayani. Sisi ini yang nanti kita pakai sebagai tulang punggung perhitungan, karena datanya biasanya sudah ada di catatan penjualan atau catatan gudang Anda.
Beban kerja kualitatif. Ini soal tingkat kesulitan, bukan jumlah. Membuat sepuluh faktur rutin berbeda jauh dari menyusun satu laporan pajak bulanan, meskipun keduanya sama-sama dihitung satu tugas. Sisi ini sering diabaikan, padahal ia yang menjelaskan kenapa seorang staf dengan volume rendah tetap terlihat kewalahan. Cara memasukkannya ke perhitungan sederhana: beri waktu rata-rata yang berbeda untuk tugas yang berbeda tingkat kesulitannya.
Beban kerja fisik. Tenaga yang dikeluarkan tubuh: mengangkat, berdiri lama, berjalan, mengendarai. Relevan sekali untuk gudang, dapur, ritel, dan kurir. Beban fisik punya sifat khusus, yaitu produktivitasnya menurun tajam setelah titik tertentu. Jam kedelapan seorang staf gudang tidak menghasilkan sebanyak jam pertama, dan itu perlu tercermin di faktor produktif yang kita pakai nanti.
Beban kerja mental. Konsentrasi, ketelitian, tekanan tenggat, dan jumlah keputusan yang harus diambil. Ini yang paling sulit diukur dan paling sering menjadi penyebab orang keluar. Seorang admin keuangan yang volumenya sedang tetapi setiap angkanya berdampak pada gaji orang lain menanggung beban mental yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di spreadsheet.
Pendapat kami di Absenia, dari empat sisi ini, yang wajib diukur dengan angka adalah sisi kuantitatif dan kualitatif, karena keduanya bisa diterjemahkan ke waktu. Sisi fisik dan mental tidak perlu dipaksakan menjadi rumus. Cukup dipakai sebagai koreksi, yaitu alasan untuk memberi kelonggaran waktu yang lebih besar pada posisi tertentu dan alasan untuk tidak menaikkan target hanya karena angka di atas kertas masih memungkinkan.
Beban kerja adalah tugas yang diubah menjadi satuan waktu. Sisi kuantitatif dan kualitatif dihitung dengan angka, sisi fisik dan mental dipakai sebagai koreksi terhadap angka itu. Tanpa satuan waktu, semua diskusi soal siapa yang paling berat berakhir menjadi adu perasaan.
Kenapa usaha kecil perlu mengukurnya
Ada anggapan bahwa analisis beban kerja itu urusan perusahaan besar dengan departemen HR lengkap. Justru sebaliknya. Perusahaan besar punya bantalan. Kalau salah menempatkan dua orang, sistemnya masih jalan. Usaha dengan 15 karyawan tidak punya bantalan itu. Satu posisi yang kelebihan beban langsung terasa di pelayanan pelanggan, dan satu posisi yang kekurangan beban langsung terasa di arus kas.
Alasan pertama adalah biaya salah tebak yang besarnya sering tidak disadari. Merekrut satu orang penuh waktu dengan gaji Rp 3.500.000 per bulan berarti komitmen Rp 42.000.000 setahun, belum termasuk waktu rekrutmen, pelatihan, dan risiko kalau ternyata tidak cocok. Kalau kebutuhan sebenarnya cuma sepertiga dari kapasitas satu orang, Anda baru saja membeli dua pertiga kapasitas yang tidak akan terpakai. Uang itu tidak hilang sekaligus, ia bocor pelan setiap bulan.
Alasan kedua adalah keadilan yang bisa dibuktikan. Di tim kecil, orang tahu persis siapa yang pulang paling malam. Kalau tidak ada angka, keluhan soal ketimpangan beban selalu terdengar seperti keluhan pribadi dan biasanya dijawab dengan kalimat menenangkan yang tidak mengubah apa pun. Begitu ada tabel yang menunjukkan satu posisi berjalan di 143 persen kapasitas dan posisi lain di 75 persen, percakapannya berubah dari siapa yang salah menjadi apa yang perlu dipindahkan.
Alasan ketiga adalah pencegahan kehilangan orang. Karyawan yang menanggung beban berlebih dalam waktu lama jarang mengeluh sampai hari mereka mengundurkan diri. Biaya menggantinya selalu lebih mahal daripada biaya membenahi sebarannya lebih awal, dan dampaknya bisa Anda baca lebih jauh di panduan turnover karyawan.
Alasan keempat, dan ini yang paling praktis, adalah kemampuan menjawab pertanyaan yang datang tiba-tiba. Ketika ada peluang menambah cabang atau menerima pesanan besar, pertanyaan pertama selalu sama: apakah tim sekarang sanggup. Kalau Anda sudah punya angka beban kerja per posisi, jawabannya bisa keluar dalam hitungan menit dan berbentuk kalimat konkret seperti sanggup kalau tugas pengantaran dipindah dan satu orang paruh waktu ditambah di gudang. Tanpa angka, jawabannya selalu berupa tebakan optimis yang baru ketahuan salah tiga bulan kemudian.
Yang sering kami temui di lapangan, pemilik usaha baru mengukur beban kerja setelah ada masalah: dua orang mengundurkan diri bersamaan, atau pelanggan mulai mengeluh lambat. Padahal pengukuran pertama biasanya cuma butuh satu sore, dan hasilnya sering mengejutkan ke arah yang melegakan. Banyak tim ternyata tidak kekurangan orang, cuma salah membagi pekerjaan.
Metode analisis beban kerja yang praktis
Ada banyak metode analisis beban kerja di literatur, sebagian dengan rumus panjang yang menuntut data yang tidak dipunyai usaha kecil. Untuk skala 10 sampai 100 karyawan, tiga pendekatan berikut sudah lebih dari cukup, dan ketiganya bisa dijalankan dengan spreadsheet biasa.
Pendekatan tugas per tugas. Ini yang paling serbaguna dan yang kita pakai di panduan ini. Cara kerjanya: daftar semua tugas rutin satu posisi, catat volume tiap tugas per bulan, catat waktu rata-rata untuk satu kali mengerjakannya, lalu kalikan. Jumlahkan semuanya untuk mendapat total waktu yang dituntut posisi itu, lalu bandingkan dengan waktu kerja tersedia. Cocok untuk posisi administratif, gudang, kasir, dan hampir semua pekerjaan yang tugasnya berulang.
Pendekatan hasil kerja. Dipakai kalau outputnya seragam dan mudah dihitung, misalnya jumlah unit produksi atau jumlah paket yang dikemas. Anda cukup tahu berapa unit yang bisa diselesaikan satu orang dalam satu jam, lalu bagi target bulanan dengan angka itu. Sederhana, tapi hanya jalan kalau produknya benar-benar seragam. Begitu ada variasi ukuran atau tingkat kesulitan, kembali ke pendekatan tugas per tugas.
Pendekatan objek kerja. Dipakai kalau bebannya ditentukan oleh jumlah objek yang dilayani, bukan jumlah aktivitas. Contohnya satu staf HR melayani sekian karyawan, atau satu teknisi merawat sekian mesin. Praktis untuk posisi pendukung yang tugasnya sulit dipecah menjadi daftar aktivitas, tetapi hasilnya kasar dan perlu diuji ulang setiap kali jumlah objek berubah banyak.
Sebelum menjalankan metode mana pun, Anda butuh satu bahan yang sering dilewati: daftar tugas yang benar per posisi. Di sinilah analisis jabatan berperan. Analisis jabatan menghasilkan uraian tugas dan tanggung jawab tiap posisi, dan itulah daftar yang nanti Anda beri volume dan waktu. Kalau daftar tugasnya salah, seluruh perhitungan beban kerja ikut salah, sebagus apa pun rumusnya. Kalau Anda belum punya, susun dulu lewat analisis jabatan dan tuangkan hasilnya ke job description masing-masing posisi, baru kembali ke halaman ini.
Saran kami, jangan mengukur seluruh posisi sekaligus di percobaan pertama. Pilih dua posisi: satu yang Anda curigai kelebihan beban dan satu yang Anda curigai kekurangan. Selesaikan keduanya sampai keluar angka, lihat apakah hasilnya masuk akal, baru lanjut ke posisi lain. Proyek analisis beban kerja yang mencakup semua orang sekaligus hampir selalu mati di tengah jalan karena datanya belum siap dan orangnya sudah lelah ditanyai.
Jangan minta karyawan menuliskan waktu tiap tugas dari ingatan. Angkanya hampir selalu melebihi kenyataan, bukan karena berbohong, tetapi karena orang mengingat hari tersibuk. Minta mereka mencatat selama dua minggu berjalan, atau ukur sendiri dengan stopwatch untuk lima sampai sepuluh kali pengerjaan, lalu ambil rata-ratanya.
Langkah 1: menghitung waktu kerja tersedia
Sebelum menghitung beban, hitung dulu kapasitas. Kesalahan paling umum di tahap ini adalah memakai angka bulat yang terdengar wajar, misalnya menganggap satu orang menyumbang 160 jam per bulan karena 8 jam dikali 20 hari. Angka itu terlalu optimis, karena mengabaikan cuti, hari sakit, dan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang produktif penuh selama delapan jam tanpa jeda.
Tabel berikut memakai contoh usaha dengan 5 hari kerja per minggu dan 8 jam kerja per hari. Ganti angkanya dengan kondisi usaha Anda, tetapi pertahankan urutannya.
| Komponen | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Hari kalender setahun | 365 hari | Titik awal |
| Kurangi libur akhir pekan | 104 hari | 52 minggu dikali 2 hari |
| Hari kerja kalender | 261 hari | 365 dikurangi 104 |
| Kurangi libur nasional dan cuti bersama | 17 hari | Asumsi, sesuaikan SKB tahun berjalan |
| Hari operasional usaha | 244 hari | Sekitar 20 hari per bulan, dipakai untuk volume tugas |
| Kurangi hak cuti tahunan | 12 hari | Minimal menurut aturan |
| Kurangi rata-rata sakit dan izin | 5 hari | Ambil dari rekap kehadiran Anda sendiri |
| Hari kerja efektif per orang | 227 hari | 244 dikurangi 12 dikurangi 5 |
| Waktu kerja tersedia per orang | 1.816 jam per tahun | 227 hari dikali 8 jam |
| Faktor waktu produktif | 75 persen | Asumsi, ganti dengan hasil pengamatan Anda |
| Waktu kerja efektif per orang | 1.362 jam per tahun | 1.816 dikali 0,75 |
| Waktu kerja efektif per bulan | 113,5 jam | 1.362 dibagi 12, setara 6.810 menit |
Perhatikan dua angka yang mudah tertukar. Hari operasional 244 hari adalah kapan pekerjaan muncul, jadi angka itu yang dipakai untuk menghitung volume tugas harian. Hari kerja efektif 227 hari adalah kapan satu orang tertentu benar-benar hadir, jadi angka itu yang dipakai untuk menghitung kapasitas. Toko tetap buka saat seorang staf mengambil cuti, dan pekerjaannya tidak ikut libur.

Faktor produktif 75 persen adalah asumsi, bukan standar resmi, dan Anda wajib menggantinya dengan angka Anda sendiri. Isinya semua hal yang memakan jam kerja tanpa menghasilkan output langsung: jeda, briefing pagi, perpindahan antar lokasi, menunggu barang datang, dan gangguan yang tidak bisa dihindari. Untuk pekerjaan gudang yang menuntut fisik, angka yang lebih jujur biasanya lebih rendah. Untuk pekerjaan administratif yang duduk di satu meja, bisa sedikit lebih tinggi. Cara mengujinya sederhana: pakai satu angka, jalankan perhitungan, lalu bandingkan hasilnya dengan kenyataan di lapangan. Kalau hasil hitungan bilang satu posisi masih longgar padahal orangnya rutin lembur, faktor produktif Anda kebesaran.
Satu catatan soal batas jam kerja. PP Nomor 35 Tahun 2021 Pasal 21 menetapkan waktu kerja 7 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja, atau 8 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja, sementara Pasal 26 membatasi waktu kerja lembur paling lama 4 jam dalam sehari dan 18 jam dalam seminggu. Hak cuti tahunan paling sedikit 12 hari kerja setelah bekerja 12 bulan berturut-turut diatur di Pasal 79 UU 13/2003 sebagaimana diubah UU Nomor 6 Tahun 2023. Perinciannya kami bahas terpisah di aturan jam kerja karyawan, jadi di sini cukup diingat sebagai pagar: hasil analisis beban kerja tidak boleh dipakai untuk membenarkan jadwal yang melewati batas itu.
Langkah 2: dari daftar tugas ke jumlah orang
Sekarang bagian yang menghasilkan keputusan. Ambil satu posisi, daftar tugasnya, isi volume dan waktu rata-rata, lalu kalikan. Contoh di bawah memakai posisi admin penjualan di sebuah usaha distribusi kecil, dengan 20 hari operasional per bulan sesuai perhitungan di langkah pertama.
| Tugas rutin | Volume per bulan | Waktu per satuan | Total menit |
|---|---|---|---|
| Input pesanan masuk | 420 pesanan | 6 menit | 2.520 |
| Buat faktur dan surat jalan | 420 dokumen | 4 menit | 1.680 |
| Rekap stok harian | 20 hari | 30 menit | 600 |
| Balas chat dan telepon pelanggan | 20 hari | 105 menit | 2.100 |
| Susun laporan penjualan mingguan | 4 laporan | 75 menit | 300 |
| Total beban kerja | 7.200 menit |
Ubah ke jam: 7.200 menit dibagi 60 sama dengan 120 jam per bulan. Bagi dengan kapasitas satu orang, yaitu 113,5 jam per bulan, hasilnya 1,06 orang. Artinya posisi admin penjualan menuntut sedikit lebih banyak daripada yang bisa diberikan satu orang. Kelebihannya 6,5 jam per bulan, atau sekitar 20 menit per hari kerja. Belum genting, tetapi tidak ada ruang tersisa. Begitu volume pesanan naik 10 persen, posisi ini langsung butuh lembur rutin.
Ulangi untuk semua posisi, lalu susun rekapnya. Tabel berikut adalah hasil lengkap untuk tim beranggota 8 orang di usaha yang sama, dengan pembagi yang sama yaitu 113,5 jam per orang per bulan.
| Posisi | Total menit per bulan | Setara jam | Kebutuhan orang | Orang sekarang | Tingkat pemanfaatan |
|---|---|---|---|---|---|
| Admin penjualan | 7.200 | 120,0 | 1,06 | 1 | 106 persen |
| Staf gudang | 19.500 | 325,0 | 2,86 | 2 | 143 persen |
| Kasir | 13.020 | 217,0 | 1,91 | 2 | 96 persen |
| Kurir | 10.200 | 170,0 | 1,50 | 2 | 75 persen |
| Admin keuangan | 5.100 | 85,0 | 0,75 | 1 | 75 persen |
| Total | 55.020 | 917,0 | 8,08 | 8 | 101 persen |
Baca baris totalnya dulu. Kebutuhan seluruh tim 8,08 orang, jumlah orang sekarang 8. Selisihnya cuma 0,08 orang, setara 9 jam per bulan dari total kapasitas tim 908 jam. Kalau Anda berhenti di baris ini, kesimpulannya adalah tim sudah pas dan tidak perlu tambahan siapa pun.
Sekarang baca per baris, dan gambarnya berubah total. Gudang berjalan di 143 persen kapasitas, kekurangan 0,86 orang. Kurir berjalan di 75 persen, kelebihan 0,50 orang. Admin keuangan juga di 75 persen, kelebihan 0,25 orang. Jadi masalah tim ini bukan kekurangan orang, melainkan sebaran yang salah. Menambah satu orang baru justru memperburuk keadaan, karena biayanya bertambah sementara gudang belum tentu ikut tertolong kalau orang barunya ditempatkan di posisi yang keliru.

Pendapat kami di Absenia, inilah nilai sebenarnya dari mengukur beban kerja di usaha kecil. Bukan untuk menemukan alasan merekrut, tetapi untuk menemukan kapasitas yang sudah Anda bayar tetapi belum terpakai. Di contoh ini, kapasitas menganggur di kurir dan admin keuangan totalnya 85,5 jam per bulan, dan Anda sudah membayarnya penuh setiap bulan.
Membaca data kehadiran dan lembur
Perhitungan di atas berdasarkan volume tugas yang Anda daftar sendiri. Selalu ada tugas yang lupa dicatat, terutama pekerjaan titipan yang tidak masuk uraian jabatan. Karena itu hasilnya wajib diuji silang dengan data yang tidak bisa dikarang, yaitu catatan kehadiran. Jam datang, jam pulang, jam di luar jadwal, pola sakit dan izin, serta sisa cuti yang tidak terpakai semuanya bercerita tentang beban kerja tanpa perlu wawancara.
Cara paling langsung adalah mengubah jam lembur menjadi setara jumlah orang. Di contoh tadi, gudang menuntut 325 jam sementara kapasitas dua orang cuma 227 jam. Selisihnya 98 jam per bulan. Dibagi dua orang menjadi 49 jam per orang per bulan, atau sekitar 2,45 jam setiap hari kerja. Angka itu masih di bawah batas 4 jam sehari, tetapi bertahan setiap bulan sepanjang tahun. Kalau diubah menjadi orang, 98 jam sama dengan 0,86 orang penuh waktu yang sebenarnya Anda butuhkan tetapi tidak Anda miliki. Rumus yang sama bisa dipakai di posisi mana pun: total jam lembur satu bulan dibagi 113,5. Empat orang yang masing-masing lembur 30 jam sebulan berarti 120 jam, setara 1,06 orang penuh waktu.
Selain lembur, ada empat sinyal lain di data kehadiran yang menandakan beban terlalu berat. Pertama, jam pulang yang konsisten melewati jadwal tanpa pernah diajukan sebagai lembur, yang biasanya berarti orangnya sungkan meminta dan Anda kehilangan datanya. Kedua, cuti tahunan yang tidak terpakai sampai akhir tahun di orang yang sama, karena tidak ada yang bisa menggantikan. Ketiga, absen sakit mendadak yang naik dan cenderung menumpuk di awal atau akhir minggu. Keempat, pengajuan cuti yang sering ditolak dengan alasan tidak ada pengganti, yang sebenarnya adalah pengakuan bahwa posisi itu berjalan tanpa cadangan.
Beban yang terlalu ringan punya sinyalnya sendiri, dan sinyal ini lebih halus karena tidak ada yang mengeluh. Tandanya antara lain jam kerja aktual yang konsisten lebih pendek dari jadwal tanpa ada pekerjaan yang tertinggal, tidak pernah ada lembur sama sekali bahkan di bulan puncak yang biasanya sibuk, banyak waktu tunggu yang diisi menunggu instruksi, dan output posisi itu tidak berubah meskipun volume usaha naik. Kalau tiga dari empat tanda ini muncul bersamaan, kemungkinan besar tingkat pemanfaatannya memang di bawah 80 persen dan ada ruang untuk menambahkan tanggung jawab, bukan mengurangi orang.
Semua sinyal ini butuh rekap yang rapi supaya bisa dibaca. Kalau kehadiran masih dicatat di buku atau spreadsheet yang diisi manual, datanya biasanya sudah terlanjur dirapikan sebelum sampai ke Anda, dan sinyal yang paling penting justru yang paling sering hilang. Formatnya kami bahas di rekap absensi karyawan, sementara cara menghitung nilai rupiah dari jam lembur ada di cara menghitung uang lembur.
Jangan mengukur beban kerja di bulan puncak lalu memakai hasilnya sebagai rata-rata tahunan. Ritel yang diukur menjelang Lebaran, atau jasa pajak yang diukur di bulan pelaporan, akan menghasilkan kebutuhan orang yang terlalu besar. Ambil minimal tiga bulan dengan karakter berbeda, lalu pakai rata-ratanya, dan tangani bulan puncak dengan tenaga musiman.
Yang dilakukan setelah angkanya keluar
Angka beban kerja tidak menyelesaikan apa pun sampai diterjemahkan menjadi tindakan. Urutannya kami sarankan seperti ini, dari yang paling murah ke yang paling mahal, dan jangan melompat ke langkah berikutnya sebelum langkah sebelumnya benar-benar dicoba.

Pertama, redistribusi. Pindahkan tugas dari posisi yang kelebihan beban ke posisi yang kapasitasnya masih longgar, sejauh keahliannya memungkinkan. Di contoh kita, kurir punya sisa kapasitas 57 jam per bulan dan pekerjaannya berdekatan dengan gudang, jadi sebagian tugas penerimaan dan penataan barang bisa dipindahkan ke sana. Setelah 57 jam itu dipindah, kekurangan gudang tinggal 41 jam per bulan, turun dari 98 jam. Redistribusi tidak menambah biaya sama sekali, tetapi perlu jujur soal batasnya: sisa kapasitas admin keuangan sebesar 28,5 jam tidak bisa dipakai menutup gudang, karena pekerjaannya beda jenis.
Kedua, otomasi. Lihat kembali tabel rincian tugas dan cari baris yang isinya memindahkan data dari satu tempat ke tempat lain. Di contoh admin penjualan, rekap stok harian memakan 600 menit dan laporan mingguan 300 menit setiap bulan. Kalau keduanya bisa dihasilkan otomatis dari sistem yang sudah mencatat transaksi, 900 menit atau 15 jam per bulan langsung kembali, dan kebutuhan posisi itu turun dari 1,06 menjadi di bawah satu orang. Pekerjaan rekap kehadiran biasanya masuk kategori yang sama.
Ketiga, potong pekerjaan yang tidak dipakai. Langkah yang paling jarang diambil dan paling sering berhasil. Setiap usaha punya laporan yang dibuat rutin karena dulu pernah diminta, lalu tidak pernah dibaca lagi. Tanyakan untuk tiap tugas di daftar Anda: kalau ini berhenti bulan depan, siapa yang akan menyadarinya. Kalau jawabannya tidak ada, hapus tugasnya.
Keempat, baru menambah orang. Setelah tiga langkah di atas, sisa kekurangan gudang 41 jam per bulan, atau sekitar 2 jam per hari kerja. Ini bukan lowongan penuh waktu. Karyawan paruh waktu sekitar 2 jam per hari sudah menutup hampir seluruhnya. Bandingkan biayanya. Dengan gaji staf gudang penuh waktu Rp 3.500.000 per bulan, biaya per jam efektifnya adalah Rp 3.500.000 dibagi 113,5 jam, yaitu sekitar Rp 30.837. Kekurangan 41 jam berarti nilai pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan cuma sekitar Rp 1.264.000 per bulan. Merekrut satu orang penuh waktu untuk menutupnya berarti membayar Rp 3.500.000, jadi ada sekitar Rp 2.236.000 per bulan yang tidak terpakai, atau sekitar Rp 26,8 juta setahun.
Kalau Anda tetap memutuskan merekrut penuh waktu, pastikan alasannya jelas, misalnya karena volume diproyeksikan naik atau karena posisi itu tidak boleh berjalan tanpa cadangan. Itu keputusan yang sah, asal diambil sadar dan bukan karena angka terlihat kurang sedikit. Tulis alasannya di satu paragraf sebelum lowongan dibuka, supaya enam bulan lagi Anda masih bisa menilai apakah keputusan itu tepat.
Terakhir, jadwalkan pengukuran ulang. Beban kerja bukan angka permanen. Volume berubah, tugas bertambah diam-diam, dan otomasi mengubah waktu per satuan. Sekali dalam enam bulan sudah cukup untuk sebagian besar UMKM, dengan tambahan pengukuran khusus setiap kali ada perubahan besar seperti buka cabang, ganti sistem, atau kehilangan orang kunci. Untuk mengumpulkan data mentahnya, absensi dan rekap kehadiran Absenia sudah berjalan hari ini, dan paketnya bisa dilihat di halaman harga: gratis Rp 0 selamanya untuk tim di bawah 10 karyawan, paket Absensi Rp 9.000 per karyawan per bulan, dan paket Lengkap Rp 19.000 per karyawan per bulan untuk payroll yang masih dalam pengembangan. Tim contoh kita yang berisi 8 orang masih masuk paket gratis, dan kalau tumbuh menjadi 12 orang biayanya Rp 108.000 per bulan. Daftar kemampuan yang sudah aktif ada di halaman fitur.
Kesalahan umum saat mengukur beban kerja
Perhitungan beban kerja gampang dibuat dan gampang salah. Delapan kesalahan berikut yang paling sering kami temui, dan semuanya menghasilkan angka yang terlihat meyakinkan padahal menyesatkan.
Membulatkan setiap posisi ke atas. Ini kesalahan paling mahal. Kalau tiap baris di tabel rekap dibulatkan ke atas, hasilnya menjadi 2 orang untuk admin penjualan, 3 untuk gudang, 2 untuk kasir, 2 untuk kurir, dan 1 untuk admin keuangan, totalnya 10 orang. Padahal kebutuhan sebenarnya 8,08 orang dan tim sekarang 8 orang. Dua orang berlebih dengan gaji Rp 3.500.000 berarti Rp 7.000.000 per bulan atau Rp 84.000.000 setahun yang keluar tanpa alasan. Pecahan seperti 0,75 dan 1,06 harus dibaca sebagai sinyal untuk memindahkan tugas, bukan sebagai perintah menambah kepala.
Memakai waktu yang dilaporkan sendiri tanpa uji silang. Estimasi dari ingatan cenderung besar. Selalu bandingkan total hasil hitungan dengan jam kerja aktual di rekap kehadiran. Kalau hitungan bilang satu posisi butuh 160 jam per bulan padahal orangnya tidak pernah lembur, ada waktu yang dilebihkan di salah satu baris.
Mengukur di bulan yang tidak mewakili. Sudah dibahas di atas, tetapi perlu diulang karena sering terjadi. Bulan puncak menghasilkan kebutuhan yang berlebih, bulan sepi menghasilkan kebutuhan yang kurang.
Melupakan tugas yang tidak ada di uraian jabatan. Rapat, koordinasi, melatih karyawan baru, menerima tamu, menutup toko, dan pekerjaan titipan dari atasan. Semua memakan waktu nyata. Kalau tidak masuk daftar, hasil hitungan Anda selalu lebih kecil dari kenyataan.
Menyamakan sibuk dengan produktif. Posisi yang terlihat paling sibuk kadang adalah posisi dengan proses paling berantakan, bukan posisi dengan volume paling besar. Sebelum menambah orang, cek dulu apakah waktunya habis untuk pekerjaan atau untuk mencari data dan menunggu persetujuan.
Memakai hasilnya untuk menghukum. Begitu karyawan tahu angka ini dipakai menilai kinerja perorangan, data yang masuk akan langsung berubah. Waktu tugas dilebih-lebihkan dan tugas yang tidak diminta berhenti dikerjakan. Analisis beban kerja mengukur posisi, bukan orang. Untuk menilai orang, pakai instrumen penilaian kinerja karyawan yang memang dirancang untuk itu, dan jaga supaya kedua proses itu tidak bercampur.
Memakai satu faktor produktif untuk semua posisi. Pekerjaan gudang yang berat secara fisik dan pekerjaan administratif yang duduk di meja tidak punya pola kelelahan yang sama. Membedakan faktornya per jenis pekerjaan membuat hasilnya jauh lebih dekat ke kenyataan. Hal yang sama berlaku untuk pola shift kerja: posisi yang bergiliran malam butuh kelonggaran lebih besar daripada posisi yang selalu masuk pagi.
Mengukur sekali lalu menganggapnya berlaku selamanya. Hasil pengukuran punya masa berlaku. Tanpa jadwal peninjauan, angka tahun lalu akan dipakai untuk membenarkan keputusan tahun ini, dan biasanya baru ketahuan salah setelah ada yang mengundurkan diri.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa itu beban kerja?
Beban kerja adalah jumlah tugas yang harus diselesaikan satu orang atau satu posisi dalam periode waktu tertentu. Isinya bukan hanya volume pekerjaan yang terlihat, tetapi juga tingkat kesulitannya, tuntutan fisiknya, dan tuntutan mentalnya. Karena itu beban kerja diukur dalam satuan waktu, misalnya menit atau jam per bulan, supaya bisa dibandingkan dengan kapasitas waktu yang benar-benar dimiliki karyawan.
Bagaimana cara menghitung beban kerja karyawan?
Tulis semua tugas rutin satu posisi, catat volumenya per bulan dan waktu rata-rata per satu kali kerja, lalu kalikan keduanya untuk mendapat total menit per bulan. Ubah ke jam, lalu bagi dengan waktu kerja efektif satu orang per bulan. Hasil pembagian itulah kebutuhan jumlah orang untuk posisi tersebut. Contoh di panduan ini: total tugas 7.200 menit per bulan sama dengan 120 jam, dibagi kapasitas 113,5 jam per orang, hasilnya 1,06 orang.
Berapa waktu kerja efektif yang wajar dipakai sebagai pembagi?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua usaha, jadi hitung sendiri. Mulai dari 365 hari kalender, kurangi akhir pekan, libur nasional, hak cuti tahunan, dan rata-rata sakit atau izin dari data kehadiran Anda. Kalikan hasilnya dengan jam kerja per hari, lalu kalikan dengan porsi waktu yang benar-benar produktif. Dalam contoh 5 hari kerja dan 8 jam per hari di panduan ini, hasilnya 1.362 jam per tahun atau 113,5 jam per bulan.
Apakah lembur rutin berarti beban kerja terlalu berat?
Lembur yang muncul di bulan puncak seperti musim liburan atau tutup buku itu wajar. Yang menjadi tanda bahaya adalah lembur yang berulang setiap bulan pada orang yang sama. Ubah jam lemburnya menjadi setara jumlah orang untuk melihat besarnya. Contoh di panduan ini, kelebihan 98 jam per bulan di gudang setara 0,86 orang penuh waktu, dan itu artinya masalah struktur tim, bukan masalah kecepatan orangnya.
Kapan hasil analisis beban kerja berarti harus merekrut orang baru?
Merekrut adalah pilihan terakhir, bukan pertama. Urutannya: redistribusi tugas ke posisi yang kapasitasnya masih longgar, otomasi pekerjaan salin tempel, lalu hentikan pekerjaan yang tidak dipakai siapa pun. Rekrut baru masuk akal kalau kekurangannya tetap ada setelah tiga langkah itu, sudah bertahan minimal tiga bulan berturut-turut, dan tugasnya memang tidak bisa dipindahkan ke posisi lain karena butuh keahlian berbeda.
Apakah Absenia bisa dipakai untuk mengukur beban kerja?
Absenia tidak menghitung beban kerja secara otomatis, tetapi menyediakan bahan bakunya. Yang sudah berjalan hari ini adalah absensi selfie dengan verifikasi GPS, cuti dan izin beserta approval, atur shift, data karyawan, rekap kehadiran, dan laporan yang bisa diekspor. Dari rekap itu Anda mendapat jam kerja aktual, jam di luar jadwal, pola sakit dan izin, serta sisa cuti yang tidak terpakai. Angka-angka itu yang Anda masukkan ke perhitungan.
Apa beda analisis beban kerja dan analisis jabatan?
Analisis jabatan menjawab apa saja tugas dan tanggung jawab sebuah posisi, hasilnya berupa uraian tugas dan job description. Analisis beban kerja memakai daftar tugas itu sebagai bahan, lalu memberi volume dan waktu pada setiap tugas untuk menjawab berapa orang yang dibutuhkan posisi tersebut. Jadi analisis jabatan dikerjakan lebih dulu. Kalau daftar tugasnya keliru, hasil analisis beban kerja ikut keliru sebagus apa pun rumusnya.
Sumber
- Permen PANRB Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja (definisi analisis beban kerja, Pasal 1 angka 17)
- PP Nomor 35 Tahun 2021 (waktu kerja Pasal 21, batas waktu kerja lembur Pasal 26)
- UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja (perubahan Pasal 79 UU 13/2003, cuti tahunan paling sedikit 12 hari kerja)


