Panduan HR

Employer Branding: Arti, Cara Membangun, dan Mengukurnya untuk UMKM

Employer branding adalah upaya mengelola persepsi calon karyawan terhadap perusahaan Anda sebagai tempat bekerja. Panduan menyusun EVP, memilih kanal, dan mengukurnya untuk UMKM.

Diterbitkan oleh Absenia · Terbit · Terakhir diperbarui · 10 menit baca
Employer Branding: Arti, Cara Membangun, dan Mengukurnya untuk UMKM

Employer branding adalah upaya terencana untuk mengelola bagaimana perusahaan Anda dipersepsikan sebagai tempat bekerja oleh calon karyawan dan pasar tenaga kerja di sekitarnya. Sederhananya, ini pekerjaan menjawab satu pertanyaan yang ada di kepala setiap orang sebelum melamar: kira-kira enak tidak ya bekerja di sana. Banyak pemilik usaha kecil mengira ini urusan perusahaan besar dengan anggaran pemasaran khusus. Kenyataannya reputasi Anda sebagai pemberi kerja sudah terbentuk sejak karyawan pertama direkrut, hanya saja terbentuk tanpa diarahkan. Panduan ini membahas pengertiannya, bedanya dengan budaya perusahaan, cara menyusun EVP, kanal yang realistis untuk UMKM, cara mengukurnya dengan angka yang sudah Anda punya, dan kesalahan yang paling sering kami lihat.

Employer branding adalah: pengertian dan cakupannya

Ada dua istilah yang sering tertukar dan sebaiknya dipisahkan sejak awal. Employer brand adalah hasilnya, yaitu reputasi Anda sebagai pemberi kerja yang sudah terlanjur ada di kepala orang. Employer branding adalah pekerjaannya, yaitu usaha sadar untuk membentuk dan meluruskan reputasi tersebut. Setiap perusahaan sudah punya employer brand, termasuk warung kopi dengan lima karyawan. Yang membedakan hanyalah apakah brand itu terbentuk secara acak dari cerita mulut ke mulut, atau terbentuk karena Anda ikut mengarahkannya.

Cakupannya lebih luas daripada yang biasa dibayangkan. Employer branding tidak berhenti di halaman karier dan unggahan media sosial. Ia mencakup bunyi iklan lowongan Anda, berapa lama pelamar menunggu kabar, bagaimana pewawancara memperlakukan orang yang akhirnya ditolak, seperti apa surat penawaran kerja ditulis, sampai apa yang diceritakan mantan karyawan kepada temannya setelah keluar. Semua titik sentuh itu meninggalkan kesan, dan kesan itulah bahan baku reputasi Anda.

Ada empat kelompok orang yang perlu Anda ingat. Pertama, pelamar aktif yang sedang mencari kerja. Kedua, kandidat pasif yang sedang bekerja di tempat lain dan hanya akan pindah kalau alasannya cukup kuat. Ketiga, karyawan yang sedang bekerja di tempat Anda, karena merekalah yang menceritakan versi paling dipercaya. Keempat, mantan karyawan, yang pengaruhnya sering diremehkan padahal cerita mereka dianggap paling netral oleh pendengarnya.

Empat kartu kelompok orang yang membentuk employer brand: pelamar aktif, kandidat pasif, karyawan saat ini, dan mantan karyawan, beserta peran masing-masing
Iklan dan halaman karier paling banyak dibaca pelamar aktif, tetapi cerita karyawan dan mantan karyawan yang paling dipercaya. Rencanakan employer branding untuk keempat kelompok sekaligus.

Pendapat kami di Absenia, employer branding paling tepat dilihat sebagai pekerjaan penerjemahan, bukan pekerjaan promosi. Tugasnya menerjemahkan apa yang benar-benar terjadi di dalam perusahaan ke dalam bahasa yang bisa dipahami orang luar. Begitu ia berubah menjadi promosi, yaitu menjanjikan sesuatu yang tidak ada di dalam, hasilnya bukan reputasi yang naik melainkan kekecewaan yang datang lebih cepat.

Ringkasan

Employer brand adalah reputasi Anda sebagai tempat bekerja, employer branding adalah usaha mengarahkannya. Setiap perusahaan sudah punya yang pertama sejak hari pertama merekrut. Yang bisa dipilih hanyalah apakah yang kedua dikerjakan dengan sengaja atau dibiarkan berjalan sendiri.

Beda employer branding dan budaya perusahaan

Pertanyaan ini hampir selalu muncul dan jawabannya menentukan arah semua pekerjaan selanjutnya. Dari sudut pandang employer branding, perbedaannya soal arah pandang. Budaya perusahaan adalah apa yang dialami orang setelah masuk pintu, yaitu nilai, kebiasaan, dan cara keputusan diambil sehari-hari. Employer brand adalah apa yang dipercaya orang sebelum masuk pintu. Employer branding adalah jembatan di antara keduanya, yaitu pekerjaan menyampaikan kenyataan di dalam supaya terbaca dengan jujur dari luar. Karena arahnya keluar, employer branding tidak pernah bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada di dalam. Ia hanya bisa memperbesar suara dari apa yang sudah ada. Kalau kenyataannya rapi, employer branding membuatnya diketahui lebih banyak orang. Kalau kenyataannya berantakan, employer branding yang agresif justru mempercepat kekecewaan, karena Anda mengundang lebih banyak orang untuk menyaksikan jarak antara janji dan kenyataan.

Urutan kerjanya karena itu tidak boleh dibalik. Kampanye rekrutmen yang manis di atas kenyataan yang belum beres adalah investasi yang merugi dua kali. Anda membayar untuk mendatangkan orang, lalu membayar lagi untuk merekrut penggantinya beberapa bulan kemudian. Yang sering kami temui di lapangan, sebuah usaha rajin mengunggah foto kebersamaan tim, sementara jam pulang tidak pernah pasti dan lembur tidak pernah dihitung. Karyawan baru merasakan selisih itu di minggu kedua, dan cerita versi mereka menyebar jauh lebih cepat daripada unggahan mana pun.

Praktisnya, ada satu uji sederhana sebelum Anda mengeluarkan klaim apa pun ke publik. Tuliskan klaim itu, lalu tanyakan kepada tiga karyawan yang paling lama bekerja apakah mereka merasakan hal tersebut. Kalau jawabannya ragu-ragu, klaim itu belum layak keluar. Bukan karena bohong itu buruk untuk citra, tetapi karena klaim yang tidak terbukti akan diuji oleh setiap karyawan baru dan hasilnya tercatat dalam bentuk turnover karyawan yang naik di tahun pertama.

Kenapa employer branding penting untuk UMKM

Perusahaan besar dan usaha kecil bersaing memperebutkan orang yang sama, tetapi dengan alat yang berbeda. Perusahaan besar bisa menang lewat angka gaji, nama yang sudah dikenal, dan paket tunjangan yang panjang. Usaha kecil jarang bisa mengalahkan itu semua sekaligus. Yang bisa Anda menangkan adalah hal-hal yang justru sulit ditiru perusahaan besar: kedekatan dengan pengambil keputusan, ruang lingkup kerja yang luas sehingga orang belajar lebih cepat, dan kejelasan bahwa kontribusinya terlihat. Employer branding adalah cara membuat keunggulan itu diketahui, karena kalau tidak diceritakan, orang akan menilai Anda semata-mata dari besaran gaji.

Dampaknya paling terasa di biaya rekrutmen. Ketika reputasi Anda buruk atau tidak dikenal sama sekali, satu lowongan bisa menghasilkan banyak lamaran yang tidak relevan dan sedikit kandidat yang benar-benar cocok. Anda menghabiskan waktu menyaring, mengulang wawancara, dan sering berakhir merekrut orang yang tersedia, bukan orang yang tepat. Ketika reputasi Anda jelas, jumlah pelamar mungkin tidak melonjak, tetapi kecocokannya naik, dan itu yang sebenarnya menghemat waktu.

Dampak kedua ada di daya tawar. Kandidat yang sudah punya gambaran positif dan realistis tentang tempat Anda lebih mungkin menerima tawaran meski angkanya bukan yang tertinggi, karena ia membandingkan paket secara keseluruhan, bukan satu angka. Sebaliknya, kandidat yang tidak tahu apa-apa tentang Anda hanya punya satu alat pembanding, yaitu nominal.

Dampak ketiga, dan ini yang paling jarang dihitung, ada di karyawan yang sudah ada. Employer branding yang dikerjakan dengan jujur memaksa Anda menuliskan apa yang Anda janjikan, dan janji yang tertulis lebih sulit dilupakan. Efek sampingnya sehat: kebijakan jadi lebih konsisten, dan karyawan lama merasa perusahaannya serius. Pendapat kami di Absenia, inilah alasan employer branding layak dikerjakan bahkan saat Anda sedang tidak merekrut siapa pun.

EVP: inti yang harus disusun lebih dulu

EVP atau Employee Value Proposition adalah rangkuman alasan seseorang memilih bekerja di tempat Anda dan bertahan di sana. Ini fondasi employer branding. Tanpa EVP, semua unggahan dan iklan lowongan hanya akan berisi kata sifat yang sama dengan ribuan perusahaan lain: lingkungan kerja yang menyenangkan, tim yang solid, kesempatan berkembang. Kalimat seperti itu tidak salah, hanya saja tidak memberi tahu apa pun kepada pembacanya.

Cara menyusunnya untuk usaha kecil sebaiknya tidak lewat rapat brainstorming di ruang tertutup. Ambil jalan yang lebih pendek: wawancarai lima sampai delapan karyawan yang sudah bertahan paling lama, masing-masing dua puluh menit, dengan tiga pertanyaan saja. Apa yang membuat Anda menerima tawaran dulu. Apa yang membuat Anda masih di sini sampai sekarang. Apa yang paling sering Anda keluhkan. Jawaban yang berulang di banyak orang adalah EVP Anda yang sebenarnya, dan keluhan yang berulang adalah daftar pekerjaan rumah Anda.

Diagram bercabang hasil wawancara karyawan lama: jawaban yang berulang menjadi EVP, keluhan yang berulang menjadi daftar pekerjaan rumah perusahaan
Jawaban yang berulang dari karyawan lama adalah bahan EVP, sedangkan keluhan yang berulang perlu dibenahi lebih dulu sebelum ada klaim apa pun ke publik.
Pilar EVPPertanyaan di kepala kandidatBentuk bukti yang bisa disiapkan UMKM
ImbalanBerapa saya dibayar dan apakah tepat waktuRentang gaji ditulis di iklan, tanggal gajian yang tidak pernah meleset
Isi pekerjaanSehari-hari saya mengerjakan apaUraian tugas yang spesifik, bukan daftar tanggung jawab umum
Peluang berkembangSetahun lagi saya jadi apaJalur karier sederhana, catatan siapa yang pernah naik posisi
Cara kerjaJam kerjanya bagaimana dan seketat apaAturan kehadiran tertulis, kebijakan kerja dari rumah yang jelas
Orang dan pemimpinAtasan saya nanti seperti apaNama dan peran atasan langsung disebut sejak iklan lowongan

Perhatikan kolom paling kanan. Semuanya berbentuk bukti, bukan kata sifat. Perbedaan antara EVP yang bekerja dan EVP yang hanya menjadi hiasan ada di situ. Menulis kami peduli keseimbangan hidup tidak berarti apa-apa. Menulis jam kerja 08.00 sampai 17.00, lembur dihitung dan dibayar, dan dua hari kerja dari rumah setiap minggu adalah pernyataan yang bisa diuji. Kalau Anda belum sanggup memenuhi salah satunya, jangan ditulis. Menahan diri jauh lebih murah daripada menarik kembali janji.

Pro Tip

Uji EVP Anda dengan satu pertanyaan pembalik: kalau kalimat ini dipasang di halaman karier pesaing Anda, apakah tetap masuk akal? Kalau iya, berarti kalimat itu belum menggambarkan apa pun tentang tempat Anda dan sebaiknya ditulis ulang sampai hanya cocok untuk perusahaan Anda sendiri.

Kanal employer branding dan cara memakainya

Setelah EVP ada, barulah bicara kanal. Urutannya penting karena kanal tanpa isi hanya memperbesar suara kosong. Untuk UMKM Indonesia, empat kanal berikut yang menurut pengamatan kami memberi hasil paling nyata dengan usaha paling masuk akal.

Halaman karier di situs sendiri. Ini satu-satunya kanal yang sepenuhnya Anda kendalikan. Isinya tidak perlu mewah: penjelasan singkat apa yang dikerjakan perusahaan, daftar posisi terbuka, gambaran proses seleksi beserta perkiraan lamanya, dan foto apa adanya. Halaman karier yang berisi satu tombol kirim CV tanpa penjelasan apa pun adalah kesempatan yang terbuang.

Iklan lowongan. Kanal yang paling sering diremehkan padahal paling banyak dibaca. Iklan lowongan adalah dokumen pemasaran sekaligus dokumen penyaring. Tulis rentang gaji, tulis lokasi dan jam kerja, tulis siapa atasan langsungnya, dan tulis tiga pekerjaan utama yang akan dikerjakan di tiga bulan pertama. Kalau Anda belum punya kerangka tugasnya, susun dulu lewat panduan job description supaya isinya tidak melebar.

Media sosial dan cerita karyawan. Bentuk yang paling dipercaya bukan pengumuman dari akun perusahaan, melainkan cerita dari orangnya langsung. Minta izin lebih dulu, jangan pernah mewajibkan, dan biarkan bahasanya tetap bahasa mereka. Satu unggahan karyawan yang menceritakan pekerjaannya dengan wajar lebih meyakinkan daripada sepuluh unggahan perusahaan yang seragam.

Ulasan mantan karyawan. Di kanal ini Anda tidak memegang kendali, dan itu sebabnya pembacanya percaya. Yang bisa Anda lakukan ada tiga: baca secara berkala, cari pola keluhan yang berulang lalu benahi penyebabnya, dan balas dengan singkat serta sopan tanpa berdebat. Meminta karyawan menulis ulasan positif secara massal adalah taktik yang mudah terbaca dan merusak kepercayaan lebih parah daripada ulasan buruk yang dibiarkan.

Satu kanal tambahan yang sering terlupa adalah rujukan dari karyawan sendiri. Ini indikator sekaligus saluran. Kalau karyawan Anda dengan sukarela mengajak temannya melamar, artinya pengalaman di dalam cukup layak diceritakan. Kalau tidak ada satu pun rujukan selama setahun, itu sinyal yang jauh lebih jujur daripada survei apa pun.

Pengalaman rekrutmen dan onboarding sebagai bukti

Bagian ini yang paling murah dibenahi dan paling sering diabaikan. Proses rekrutmen adalah contoh nyata pertama yang dirasakan orang tentang cara Anda memperlakukan manusia. Semua klaim di halaman karier diuji di sini, dan pengujinya bukan hanya orang yang diterima, melainkan juga semua orang yang ditolak. Untuk usaha kecil di kota yang tidak terlalu besar, kandidat yang ditolak dengan cara buruk adalah sumber cerita negatif paling produktif.

Ada empat hal sederhana yang berdampak besar. Pertama, balas setiap pelamar, termasuk yang tidak lolos, dengan pesan singkat. Kedua, sebutkan perkiraan lama proses di awal dan penuhi. Ketiga, jangan meminta pekerjaan uji coba yang memakan waktu berhari-hari tanpa kompensasi. Keempat, jangan mengubah angka atau ruang lingkup pekerjaan setelah tawaran diberikan. Kerangka tahapan yang wajar bisa Anda susun mengikuti panduan proses rekrutmen karyawan.

Lima titik uji pengalaman kandidat berurutan: iklan lowongan, proses seleksi, surat penawaran, hari pertama, dan percakapan hari ke-30 serta ke-90
Setiap titik ini menguji apakah janji di iklan sama dengan kenyataan. Percakapan hari ke-30 dan ke-90 memberi daftar kesenjangannya langsung dari karyawan baru.

Perlakuan yang setara juga bukan sekadar urusan citra. UU Nomor 13 Tahun 2003 menegaskan bahwa setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan, dan setiap pekerja berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Menyaring pelamar berdasarkan hal yang tidak berhubungan dengan kemampuan kerja bukan hanya berisiko secara hukum, tetapi juga mempersempit kolam kandidat Anda sendiri.

Titik uji berikutnya ada di surat penawaran. Dokumen ini menjadi bukti tertulis pertama bahwa yang dijanjikan lisan memang benar. Isi yang lengkap dan tidak berubah-ubah menutup peluang salah paham, dan formatnya bisa Anda tiru dari contoh offering letter.

Titik uji terakhir adalah hari pertama. Meja siap, akun siap, ada yang menyambut, ada jadwal minggu pertama, dan ada satu orang yang jelas menjadi tempat bertanya. Kalau hari pertama berantakan, karyawan baru langsung menyimpulkan bahwa perusahaan ini tidak siap, dan kesimpulan itu sulit diperbaiki. Checklist praktisnya kami uraikan di panduan onboarding karyawan baru. Satu tambahan yang sering menolong: tunjukkan sejak awal seperti apa jalur naik posisi di tempat Anda, walau bentuknya masih sederhana, seperti yang dibahas di artikel jenjang karir.

Cara mengukur employer branding

Employer branding sering dianggap tidak terukur, padahal sebagian besar angkanya sudah ada di catatan rekrutmen Anda. Yang perlu dilakukan hanya mencatatnya secara konsisten dan membandingkannya antar periode. Jangan membandingkan dengan perusahaan lain yang skalanya berbeda, karena konteksnya tidak setara dan hasilnya hanya membuat frustrasi.

Yang diukurCara mengambilnya tanpa alat mahalYang ditunjukkan angkanya
Pelamar relevan per lowonganHitung manual dari berkas lamaran yang lolos syarat dasarSeberapa tepat pesan Anda sampai ke orang yang dituju
Sumber pelamarSatu pertanyaan di formulir lamaran: tahu lowongan ini dari manaKanal mana yang benar-benar bekerja
Lama posisi terisiSelisih hari antara lowongan dibuka dan tawaran diterimaSeberapa cepat pasar merespons nama Anda
Tawaran yang diterimaJumlah tawaran diterima dibagi jumlah tawaran diberikanSeberapa meyakinkan Anda di tahap akhir
Rujukan dari karyawanCatat berapa pelamar datang atas ajakan karyawan sendiriApakah pengalaman di dalam layak diceritakan
Bertahan lewat 3 bulanPersentase karyawan baru yang masih ada di bulan keempatSeberapa jauh janji cocok dengan kenyataan

Baris terakhir adalah yang paling penting dan paling jujur. Angka pelamar bisa naik karena iklan yang menarik, tetapi karyawan yang bertahan lewat tiga bulan pertama hanya bisa naik kalau pengalaman di dalam memang sesuai dengan yang dijanjikan. Kalau pelamar banyak tetapi yang bertahan sedikit, masalahnya bukan di pemasaran melainkan di dalam.

Tambahan yang murah: lakukan percakapan singkat di hari ke tiga puluh dan di hari ke sembilan puluh dengan setiap karyawan baru. Satu pertanyaan saja sudah cukup, yaitu apa yang ternyata berbeda dari yang Anda bayangkan sebelum masuk. Jawabannya adalah daftar kesenjangan antara employer brand dan kenyataan Anda, disusun oleh orang yang baru saja mengalaminya. Data kehadiran, keterlambatan, dan pola izin di bulan-bulan pertama juga bisa dibaca sebagai sinyal awal, dan itu tersedia otomatis kalau pencatatan kehadiran Anda sudah rapi lewat fitur Absenia.

Kesalahan umum UMKM dalam employer branding

Dari banyak percakapan dengan pemilik usaha, pola kesalahannya cenderung berulang. Berikut yang paling sering muncul beserta cara menghindarinya.

  • Menjanjikan kekeluargaan sebagai pengganti kejelasan. Kata kekeluargaan sering dipakai untuk membungkus jam kerja yang tidak jelas dan lembur yang tidak dihitung. Kandidat berpengalaman sudah hafal polanya dan justru menjauh.
  • Menyembunyikan rentang gaji. Menutup angka tidak membuat daya tawar Anda naik, hanya membuat pelamar yang tidak cocok tetap masuk dan waktu kedua pihak terbuang.
  • Membangun citra sebelum membenahi kenyataan. Ini kesalahan paling mahal. Semakin berhasil kampanyenya, semakin cepat kesenjangannya terbongkar oleh karyawan baru.
  • Hanya aktif saat sedang butuh orang. Employer branding bekerja seperti tabungan. Kalau baru mulai bercerita ketika lowongan mendesak, tidak ada saldo yang bisa dipakai.
  • Menyalin bahasa perusahaan besar. Meniru gaya perusahaan teknologi besar membuat Anda terdengar seperti versi kecil dari mereka. Keunggulan Anda justru pada hal yang tidak mereka punya.
  • Mengabaikan cara berpisah. Karyawan yang keluar dengan proses yang rapi, gaji terakhir yang beres, dan dokumen yang lengkap cenderung bercerita netral atau positif. Perpisahan yang buruk menghasilkan cerita yang bertahan bertahun-tahun.

Pendapat kami di Absenia, kalau Anda hanya punya tenaga untuk satu perbaikan tahun ini, pilihlah membenahi hal-hal yang bisa dibuktikan, bukan hal-hal yang bisa dipromosikan. Kehadiran yang tercatat rapi, jam kerja yang jelas, cuti yang tidak perlu diperdebatkan, dan gaji yang tidak pernah telat adalah bahan employer branding yang jauh lebih kuat daripada rangkaian foto kegiatan. Kabar baiknya, pekerjaan itu tidak mahal. Absenia gratis selamanya untuk tim di bawah 10 karyawan, paket Absensi Rp 9.000 per karyawan per bulan, dan paket Lengkap Rp 19.000 per karyawan per bulan untuk payroll yang masih dalam pengembangan. Tidak ada biaya implementasi dan tidak perlu kartu kredit. Rinciannya terbuka di halaman harga.

Catatan

Jangan mengharapkan hasil dalam hitungan minggu. Reputasi sebagai pemberi kerja bergerak lambat karena ia dibentuk oleh pengalaman banyak orang yang terkumpul. Yang realistis adalah menetapkan tiga perbaikan konkret, menjalankannya konsisten selama enam sampai dua belas bulan, lalu membandingkan angka rekrutmen Anda dengan periode sebelumnya.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu employer branding?

Employer branding adalah upaya terencana untuk mengelola bagaimana perusahaan Anda dipersepsikan sebagai tempat bekerja oleh calon karyawan dan pasar tenaga kerja. Isinya bukan logo atau slogan, melainkan janji tentang seperti apa rasanya bekerja di sana, lalu bukti yang menopang janji itu. Hasil dari upaya tersebut disebut employer brand, yaitu reputasi Anda sebagai pemberi kerja yang sudah terlanjur ada di kepala orang, disengaja atau tidak.

Apa beda employer branding dan budaya perusahaan?

Budaya perusahaan adalah kenyataan yang dialami karyawan setiap hari di dalam, sedangkan employer brand adalah persepsi yang dipegang orang di luar sebelum mereka masuk. Employer branding adalah pekerjaan menyampaikan kenyataan itu ke luar. Kalau yang disampaikan tidak sesuai dengan yang dialami setelah karyawan masuk, kesenjangannya akan terlihat dalam hitungan minggu, biasanya lewat resign cepat dan cerita yang menyebar di komunitas.

Apa itu EVP dan bagaimana menyusunnya untuk usaha kecil?

EVP atau Employee Value Proposition adalah rangkuman alasan seseorang memilih bekerja di tempat Anda dan bertahan. Cara menyusunnya untuk usaha kecil bukan lewat rapat brainstorming, melainkan lewat wawancara singkat dengan karyawan yang sudah bertahan lama. Tanyakan apa yang membuat mereka tetap tinggal, lalu tulis jawaban yang paling sering muncul apa adanya, tanpa dipoles. Itulah EVP Anda yang sebenarnya.

Berapa biaya membangun employer branding untuk UMKM?

Sebagian besar pekerjaannya tidak berbiaya uang, melainkan berbiaya waktu dan konsistensi. Menulis iklan lowongan yang jujur, membalas pelamar dalam waktu wajar, menyiapkan hari pertama yang rapi, dan meminta izin karyawan untuk menceritakan pekerjaannya di media sosial adalah pekerjaan gratis. Biaya baru muncul kalau Anda memilih memasang iklan berbayar, membuat video profil, atau memakai jasa fotografi, dan itu sifatnya pelengkap, bukan syarat.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan employer branding?

Pakai angka yang sudah Anda punya dari proses rekrutmen: jumlah pelamar yang relevan per lowongan, dari mana mereka tahu, berapa lama satu posisi terisi, berapa persen tawaran kerja yang diterima, berapa banyak pelamar yang datang dari rujukan karyawan, dan berapa banyak karyawan baru yang bertahan lewat tiga bulan pertama. Bandingkan angkanya antar periode, bukan dengan perusahaan lain yang skalanya berbeda.

Bagaimana menghadapi ulasan negatif dari mantan karyawan?

Jangan menghapus, jangan berdebat, dan jangan meminta karyawan sekarang menulis ulasan bagus untuk menutupinya. Baca isinya, cari pola yang berulang, lalu perbaiki penyebabnya. Balasan yang paling baik adalah balasan singkat, sopan, mengakui bagian yang benar, dan menyebutkan perubahan yang sudah dilakukan. Satu ulasan negatif di antara ulasan wajar justru membuat halaman Anda terbaca lebih jujur.

Kanal employer branding apa yang paling realistis untuk UMKM?

Empat kanal yang paling masuk akal untuk usaha kecil adalah halaman karier di situs sendiri, iklan lowongan, cerita karyawan di media sosial, dan ulasan mantan karyawan. Halaman karier sepenuhnya Anda kendalikan, iklan lowongan paling banyak dibaca, cerita karyawan paling dipercaya asalkan dimintakan izin dan tidak diwajibkan, sedangkan ulasan mantan karyawan dibaca berkala untuk mencari pola keluhan. Rujukan dari karyawan sendiri sekaligus menjadi indikator dan saluran. Susun EVP lebih dulu sebelum memakai kanal mana pun.

Sumber

  1. UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi, Pasal 5 dan Pasal 6)

Mulai gratis, tanpa kartu kredit.

Gratis selamanya untuk tim di bawah 10 karyawan. Berhenti kapan saja.